Seragam Militer Buatan Anak Indonesia Sekarang Sudah Mendunia
Minggu, 28 Februari 2016
Arie Setya Yudha, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah
Mada (UGM) tak menyangka jika hobinya bermain airsofgun justru
menghasilkan pundi-pundi uang. Dari situlah ia menggeluti bisnis seragam
militer yang kini sudah tembus pasar dunia.
Arie berbagi cerita perjalanan dia merintis bisnis yang omzet per
bulannya sekarang mencapai Rp185 juta. Awalnya ia memang doyan bermain
airsofgun, tapi Arie sadar hobinya itu perlu banyak biaya, terutama
untuk peralatannya (seragam).
Akhirnya dengan modal Rp280 ribu, ia membeli bahan baku berupa kain dan
menjahitkannya ke penjahit. "Pakaian yang sudah jadi itu saya jual lagi
di internet sebagai modal. Ternyata responnya luar biasa," kenang Arie
dikutip Dream.co.id dari laman UGM.ac.id, Jumat 5 September 2014.
Tidak disangka, dengan kualitas desain dan jahitan yang ditawarkan di
media online, peminat seragam militer Arie juga datang dari pasar luar
negeri.
Banyaknya ulasan terhadap produk yang dihasilkan mmebuat seragam militer
karya Arie juga dilirik pasar domestik, salah satunya Polri.
"Gegana Brimob Polri mempercayakan desain seragam taktis kepada kita
untuk salah satu detasemennya," kata mahasiswa asal Pekanbaru ini.
Di semester tiga Arie akhirnya mendirikan PT. Molay Satrya Indonesia
yang bergerak di bidang pengadaan, desain dan pembuatan perlengkapan
taktis terutama seragam taktis.
Menurut Arie selain dari kepolisian, produk yang ia namakan Molay
tersebut juga diminati tentara, salah satunya TNI-AL dari batalyon Intai
Amfibi Marinir.
Kini, produk Molay baik seragam, rompi, topi dan tas sudah merambah di
berbagai negara di dunia, seperti AS, Kanada, Austria, Vietnam, Jerman,
Italia dan Arab.
Setiap bulan kurang lebih 200 stel pakaian berhasil mereka produksi. Itu
pun masih jauh dari permintaan yang bisa mencapai lebih dari 500.
"Kuncinya kualitas dan harganya bisa bersaing dengan produk luar,"
ungkap Arie.
Bisnis yang dikelola Arie 80 persen menggunakan basis internet untuk
promosi maupun mencari bahan, seperti kain. Jika awalnya bisnis yang
dirintis pada 2009 hanya sendirian kini Arie sudah dibantu 17 karyawan
dengan 10 staf dan 7 bagian produksi.
