ISIS Adalah Islam, Tapi Kenapa Tidak Pernah Membantu Palestina...??? Alasannya..??
Rabu, 27 Januari 2016
Di tahun 2015 kemarin dan sekarang 2016, ISIS menjadi topik yang hangat
dibicarakan dikarenakan terornya di berbagai negara. Semakin hari
rahasia organisasi teroris yang menamakan diri sebagai ad Daulah al
Islamiyah fi al Iraq wa as Suriyah alias Daisy atawa ISIS (Islamic State
of Iraq and Syria) makin terkuak. Terakhir mereka tidak menjadikan
Zionis Israel sebagai musuh. Alasan yang dikemukakan, sebagaimana
disampaikan Jurgen Todenhofer, karena Israel merupakan satu-satunya
negara yang paling ditakuti ISIS.
Todenfofer adalah seorang wartawan kawakan berusia 75 tahun. Pada 2014
ia pernah berada di Suriah selama sepuluh hari. Menurutnya, ISIS tidak
takut terhadap serangan yang dilancarkan Rusia ataupun negara-negara
yang tergabung dalam koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS). Pasukan
darat AS, Inggris dan negara-negara Eropa lainnya dianggap tidak
berpengalaman melawan gerilyawan kota atau strategi teroris seperti yang
dilakukan ISIS. Sebaliknya, lanjut wartawan asal Jerman ini, Israel
sangat tangguh dalam bertempur melawan gerilyawan dan teroris.
Hingga sekarang negara-negara yang tergabung dalam koalisi pimpinan AS
memang belum menurunkan pasukan darat mereka untuk melawan ISIS.
Todenfofer menganalisa, hal itu sengaja dilakukan pasukan koalisi karena
mereka mengetahui ketangguhan ISIS dalam perang gerilya kota ataupun
dengan cara teror. Salah satunya dengan serangan bom bunuh diri.
Namun, pandangan Todenhofer ini segera dibantah oleh sejumlah pengamat
dan ahli strategi perang di Timur Tengah. Sebagaimana ditulis media al
Sharq al Awsat dan Aljazeera.net, gabungan pasukan dari negara-negara
NATO (North Atlantic Treaty Organization/Pakta Pertahanan Atlantik
Utara) akan susah untuk dilawan, apalagi hanya oleh ISIS yang cuma
mempunyai puluhan ribu personil. Itu pun bukan personil militer terlatih
sebagaimana negara-negara maju. Dua media itu lalu mencontohkan tentang
penggulingan rezim Taliban — yang didukung Alqaida — di Afghanistan,
rezim Saddam Husein di Irak, dan rezim Muamar Qadafi di Libia.
Yang jadi persolan adalah hingga kini koalisi internasional pimpinan AS
dan juga koalisi negara-negara Islam pimpinan Arab Saudi yang baru
terbentuk, serta militer dari negara asing lainnya — termasuk dari Rusia
–, belum menurunkan pasukan darat mereka. Yang berlangsung selama ini
adalah serangan udara secara sporadis dan kurang terkordinasi dalam satu
komando, sehingga hasilnya pun kurang maksimal.
Penyebabnya berbagai-bagai. Di antaranya, pertama, koalisi yang ada
sekarang ini, terutama dari negara-negara Arab dan Islam (negara dengan
penduduk mayoritas Muslim) bisa dikatakan sebagai koalisi setengah hati.
Pemerintahan di Irak sekarang adalah penganut Syiah. Begitu pula dengan
rezim Bashar Assad yang berkuasa di Suriah. Bila kelompok militan ISIS
dihabisi, maka yang berkuasa di Irak dan Suriah otomatis adalah Syiah.
Dan, bukan rahasia lagi negara-negara Arab, khususnya negara-negara
Teluk, sangat khawatir dengan pengaruh Syiah yang semakin membesar.
Kedua, AS sebagai pimpinan koalisi sebenarnya tahu segala gerak-gerik
pasukan ISIS. Apalagi mereka mempunyai peralatan militer yang sangat
canggih. Namun, mereka sengaja membiarkan pergerakan pasukan ISIS hanya
dihadapi militer Irak. Padahal, tulis al Sharq al Awsat, bila AS mau
mereka bisa langsung menggempur pasukan ISIS lewat serangan udara dan
darat.
Tidak diketahui dengan pasti apa alasan AS. Namun, yang bisa diprediksi
adalah bahwa AS telah mengambil keuntungan dari konflik yang terjadi
baik di Irak maupun Suriah. Bahkan di kawasan Timur Tengah pada umumnya.
Terutama lewat perdagangan senjata, minyak, dan benda-benda purbakala,
baik terang-terangan maupun lewat perdagangan gelap.
Ketiga, meskipun pasukan koalisi internasional pimpinan AS telah
berhasil dengan gemilang menghancurkan rezim Taliban dan Alqaida di
Afghanistan dan rezim Saddam Husein di Irak, namun serangan itu telah
meninggalkan trauma berkepanjangan, terutama buat AS dan Inggris.
Serangan itu hingga sekarang masih memunculkan kritik yang tajam dari
rakyat di kedua negara tersebut.
Kondisi seperti itulah yang kemudian selalu dimanfaatkan dengan baik oleh ISIS.
Apalagi mereka tahu persis tentara Irak kurang terlatih dan mentalnya
juga payah. Mereka adalah rekrutan baru. Sedangkan para mantan tentara
Saddam Husein yang terlatih yang meyoritas Suni tidak dipakai lantaran
diragukan loyalitasnya kepada Pemerintah Irak. Sementara itu di Suriah,
konflik antara rezim Bashar Assad dan kelompok-kelompok oposisi telah
mempermudah ISIS untuk ikut ‘bermain’.
Yang aneh bin memprihatinkan, meskipun ISIS selalu mengklaim sebagai
pejuang demi Islam dan kepentingan umat Islam, namun tak pernah
sekalipun mereka, termasuk pemimpin tertingginya Abu Bakar al Baghdadi,
menyatakan perang terhadap negara Zionis Israel. Yang menjadi musuh mereka
selama ini justru orang-orang atau kelompok yang dianggap bisa
menghalangi atau bahkan hanya berbeda pandang dengan mereka. Termasuk
dalam kelompok ini adalah orang-orang Islam sendiri, baik Syiah maupun
Suni. Sementara itu Zionis Israel dianggap bukan sebagai panghalang
sepak terjang ISIS alias sebagai teman.
Padahal, selama ini, Zionis Israel merupakan musuh bebuyutan dari
mayoritas umat Islam. Bukan lantaran mereka adalah bangsa Yahudi, namun
lebih karena sikap mereka yang kolonialis alias bangsa penjajah. Sudah
berpuluh-puluh tahun Israel menduduki wilayah bangsa Palestina. Termasuk
kompleks Masjidil Aqsa yang merupakan kiblat pertama dan tempat suci
ketiga bagi umat Islam. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir ini Israel
terus berusaha untuk ‘mengyahudikan’ segala hal yang terkait dengan
Masjidl Aqsa, termasuk menggantikan indentitas Islam dengan identitas
Yahudi.
Namun, dengan munculnya kelompok teroris ISIS yang menebarkan ketakutan
pada masyarakat internasional, konsentrasi negara-negara Arab dan Islam
(negara berpenduduk mayoritas Muslim) pun tersedot kepada mereka. Hal
ini jelas menguntungkan Zionis Israel.
Dalam jajak pendapat yang dilakukan kepada warga Israel bulan lalu
didapat hasil bahwa negara-negara Arab dan Islam kini sudah tidak mereka
anggap sebagai ancaman serius terhadap eksistensi negara Israel. Yang
mereka khawatirkan justeru gerakan intifadah para pemuda Palestina.
Mereka dianggap ancaman berbahaya bagi masyarakat Israel. Sayangnya,
bangsa Palestina kini seolah berjuang sendirian. Tidak ada lagi negara
Arab dan Islam yang memperdulikan nasib mereka, kecuali hanyalah
dukungan politik alias hanya dukungan pernyataan.
Karena itu, yang bisa dibaca dari pekembangan di Timur Tengah yang
semakin ruwet ini adalah ISIS sangat pandai memanfaatkan keadaan demi
kepentingan memperoleh kekuasaan. Sepak terjang mereka tidak ada
hubungannya dengan ‘demi Islam dan membela serta memperjuangkan
kepentingan umat Islam’. Bahkan tindakan teror yang mereka lakukan di
mana-mana telah menimbulkan Islamophobia alias kebencian kepada Islam
dan umat Islam. Hal ini jelas merugikan umat Islam sendiri.
Yang memprihatinkan, ribuan orang, terutama para pemuda dari berbagai
negara asing, telah berhasil direkrut oleh ISIS. Para pemuda itu
terpincut pada klaim kelompok militan itu bahwa mereka berjuang demi
Islam dan demi kepentingan umat Islam. Padahal, mereka sebenarnya
hanyalah dimanfaatkan oleh para pemimpin ISIS untuk dijadikan tentara
dalam rangka memperoleh kekuasaan. Sepak terjang ISIS jelas tidak ada
hubungannya dengan Islam dan kepentingan umat Islam.
SUMBER : SURATKABAR.CO
